Minggu, 03 April 2011

Mewarisi Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Uraian Maulid Nabi di Istana Negara, 16 Februari 2011
Oleh: DR. KH Said Aqil Siroj MA

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Syukur Alhamdulillah pada malam ini kita bisa merayakan bersama-sama hari kelahiran tokoh besar pemimpin ummat Nabi Besar Muhammad SAW dalam suasana damai dan sejahtera. Walaupun beliau lahir dan tampil sebagai pemimpin dunia lima belas abad yang lampau, tetapi dampak dan jejak serta manfaatnya tetap bisa kita rasakan sampai hari ini. Hal itu tidak lain karena apa yang disampaikan Oleh Nabi Muhammad baik yang tertuang dalam Al Quran maupun Sunnah, tidak hanya berupa aturan-aturan yang abstrak, tetapi merupakan ajaran-ajaran yang konkret yang bisa diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, di mana beliau sendiri menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik), bagi umatnya hingga hari ini. Keluhuran akhlak Nabi itu ditegaskan bahwa; “kaana khuluquhul qur’an, seluruh berperilaku Nabi adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang ada dalam Al Quran.

Nabi Muhammad diutus dengan mengemban tugas profetik atau tugas suci liutamimma makaarimal akhlaq (menyempurnakan akhlak manusia). Tentu saja ini tugas yang sangat berat, dan itu misi yang hampir mustahil karena mengembangkan akhlaq atau moralitas di tengah masyarakat dunia yang sedang dalam suasana jahiliyah yang sangat mapan dengan sistem sosial yang penuh diskriminasi, dengan sistem ekonomi yang penuh penghisapan; dengan sistem kekuasaan yang penuh penindasan; dan sistem religinya yang penuh kemusyrikan. Sistem yang sudah kokoh itu yang harus dibongkar dan dirombak oleh Nabi untuk diganti dengan sistem kehidupan baru yang lebih adil, lebih manusiawi.

Dalam mengawali tugas besar itu, maka yang pertama-tama ditanamkan oleh Nabi adalah nilai-nilai tauhid atau keimanan. Ini merupakan langkah pertama membebaskan mereka dari kesesatan. Selanjutnya dari keimanan itu lahirlah amal saleh, menuju nilai-nilai Islam yang sarat dengan kemajuan peradaban dan pembebasan dari nilai-nilai kejahiliyahan. Dalam misi tersebut sini benar-benar terintegrasi antara iman dan amal sholeh, yang tercermin dalam setiap tindakan. Misi profetik yang diemban Nabi adalah menciptakan masyarakat berperadaban tinggi, yang dilandasi oleh iman dan amal saleh.

Pembangunan Masyarakat dimulai di Madinah, mengingat kondisi Yatsrib (Madinah) sebagai daerah sistem kemasyarakatan bersifat majemuk, plural. Karena itu dalam berbagai kesempatan kami tanpa keraguan sedikitpun mengatakan bahwa; Nabi tidak mendirikan negara Islam tetapi mendirikan negara Madinah. Pada masa itu penduduk Madinah sangat heterogen terdiri dari kaum Muslimin yang berasal dari suku Quraisy (Muhajirin) dan kelompok Ansor (Suku Aus dan Khazraj), kaum itu Yahudi terdiri dari Bani Quraidlah, Bani Qoinuqa’ dan Bani Nadzir, dan kelompok Nasrani dari Najran. Dengan mereka itu Nabi membuat Piagam Madinah mengikat masyaraakat majemuk tadi menjadi ummat wahidatan (satu Ummat) yang menjunjung persamaan mengesampingkan perbedaan dan berjuang bersama dalam membela negara. Sebagai pemimpin nabi meberikan perhatian yang besar terhadap seluruh kelompok masyarakat, menunjukkan rasa kasih sayang, tetapi tetap tegas dan adil. Dalam masyarakat Madinah setiap pemeluk agama mendapatkan hak hidup dan kebebasan menjalankan agamanya dengan seluas-luasnya. Sebagai Contoh suatu ketika ada seorang Muslim membunuh seorang Yahudi, maka Nabipun menegurnya dengan mengatakan;

من قتل ذميا فأنا خصمه و من كنت خصمه فلم يشم ريحة الجنة
Artinya: “Barang siapa memerangi kaum dzimmi maka akulah musuhnya, dan barang siapa memusuhiku maka tidak akan menghirup aroma Surga”.

Ini menunjukkan betapa pandangan pluralis dan bersikap toleran itu telah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh Nabi sejak awal. Dengan demikian Piagam Madinah bisa dilaksanakan dengan efektif bagi seluruh anggota kelompok yang menandatangani Piagam tersebut. Semuanya hidup rukun dan bebas menjalankan agama masing-masing di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Kehidupan itulah yang menyebar ke seluruh dunia termasuk yang datang dan tumbuh di Nusantara.

Bapak Presiden, Ibu Negara, para menteri, pejabat tinggi negara, para duta besar negara-negara sahabat, alim ulama, hadirin hadirat sekalian yang saya hormati

Aspek lain yang penting untuk diketengahkan dari kepemimpinan Nabi di Madinah yang relevan dengan situasi sekarang sifatnya yang adil, tegas dan tidak nepotis. Suatu ketika tertangkap seorang wanita karena mencuri, lalu Usamah bin Zaid meminta kepada Nabi untuk membebaskan wanita tersebut dari hukuman. Tetapi dengan tegas Nabi menolak untuk membebaskan pencuri tersebut dengan mengatakan:
“Seandainya Fatimah binti Muhamamad (anakku) mencuri, maka akan saya potong sendiri tangannya.”

Dalam menerapkan risalahnya Nabi bertindak adil terhadap siapapun, kalau keluarganya sendiri menyeleweng juga akan ditindak, bukan dilindungi. Dengan demikian hukum bisa ditegakkan tanpa pandang bulu, karena ada law enforcement yang kuat.

Karakter Nabi lainnya yang patut kita contoh adalah sikapnya yang selalu mengasihi fakir miskin dan rakyat jelata. Mampu melayani rakyat jelata sebagimana menghadapi para pembesar. Nabi sendiri memilih cara hidup yang sederhana agar bisa bergaul dan merasakan penderitaan mereka sehingga bisa memperjuangkan kepentingan mereka. Ajaran yang dibawa Nabi tentang zakat, infaq dan keutamaan sedekah adalah untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan dan kerukunan. Tujuan pelaksanaan zakat dan sedekah itu sangat jelas:

كى لا دولة بين الأغنياء منكم

Artinya: Agar harta-benda tidak hanya berputar di lingkungan orang-orang kaya. (QS. Al Hasyr: 7)

Dan ajaran ini diterapkan Abu Bakar ketika orang yang tidak mau membayar zakat maka dianggap keluar dari Islam, maka mereka yang melanggar ditindak secara tegas, ini menunjukkan kepedulian pada masyarakat kecil, seperti yang dicontohkan Nabi.

Pada Masa pembebasan Kota Mekah Nabi memberikan keteladanan yang lain dengan memberikan amnesti umum pada kelompok yang selama ini memusuhi beliau. Walaupun beliau mereka usir dari tanah kelahirannya itu selama kurang lebih delapan tahun, tetapi beliau tidak melakukan balas dendam, terhadap orang-orang yang dulu melakukan penyiksaan, penghinaan terhadap Islam dan kaum Muslimin dan Nabi sendiri. Tetapi ada sekelompok shabat yang dendam pada kekejaman orang kafir Quraisy di zaman dahulu, sehingga sesumbar dengan geram; al yauma yaumul malhamah (hari ini adalah hari pembalasan), maka dengan tegas Nabi mencegah kemauan sekelompok shabatnya itu dengan sikap sebaliknya dengan bahasa penuh kesejukan; al yauma yaumul marhamah (hari ini adalah hari kasih sayang), hari untuk saling memaafkan. Selanjutnya diumumkan; barang siapa masuk masjid maka mereka aman, dan barang siapa masuk rumah Abu Sufyan Tokoh Quraisy juga aman, dan barang siapa yang menutup rumahnya juga dijamin keamanannya; sehingga tidak ada pertumpahan darah dalam pembebasan Mekah itu. Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, jauh dari rasa dendam, apalagi dendam pribadi. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Quran:

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفرلهم
Artinya: “Dikarenakan rahmat dari Allah–lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka (Quraisy). Seandainya kamu bersikap keras dan kasar tentulah mereka akan menjauh dari sisimu, karena itu maafkan dan mohonkan ampun mereka.” (QS. Ali Imran: 159).

Dengan sikap lembut dan pemaaf itu misi Nabi justru lebih menumbuhkan simpati masyarakat.

Hikmah tarikh lain yang diajarkan Nabi adalah setelah pembebasan Mekah, berbagai suku di Arab telah masuk Islam, sehingga membuat bangga sebagian kaum Muslimin yang jumlahnya mayoritas. Sikap itu membuat mereka angkuh dan lengah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasulnya, sehingga mereka mendapat musibah besar ketika mendapat serangan dari orang kafir di Khunain. Allah mencela hal itu dengan berfirman:

ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا
Artinya: Dan ingatlah peristiwa Khunain, ketika kamu congkak, karena banyaknya jumlahmu, maka padahal jumlah yang banyak tu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun." (QS. At-Taubah: 25)

Allah dan Rasulnya menghendaki bagi kelompok mayoritas harus tetap rendah hati, sehingga bisa menjadi pelindung bagi keompok minoritas yang lain.

Bapak Presiden, hadirin hadirat yang saya muliakan.

Peristiwa bersejarah yang perlu diperhatikan juga adalah saat beliau membagi-bagi harta ghanimah (rampasan perang) setelah Peristiwa Thaif, Nabi meberikan porsi yang sangat sedikit para sahabat pejuang Islam terkemuka dan telah lama berjuang. Sebaliknya memberi pembagian yanag sangat besar pada tokoh-tokoh Quraisy yang baru masuk Islam walaupun mereka itu kaya-raya, sehingga ada seorang sahabat yang memprotes;

“Berlaku adillah Muhammad!” Nabi menjawab; “Demi Allah apa yang saya lakukan ini perintah Allah dan aku telah berbuat adil”. Selanjutnya Nabi mengatakan; “Akan muncul dari umatku orang seperti ini yang hafal Al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggorokannya, mereka itu lebih buruk dari binatang.”

Apa yang dikatakan Nabi benar tidak lama setelah Nabi wafat muncul kelompok Khawarij yang bersikap tatharruf (ekstrem) sehingga mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim. Inilah cikal bakal munculnya radikalisme Islam seperti yang kita hadapi saat ini. Nabi mencela tindakan mereka, karena merugikan Islam dan menyengsarakan kaum Muslimin. Alhamdulillah saat ini organisasi-organisasi Islam, kalangan masyarakat dan pemerintahn bergandengan tangan bersatu padu menolak gerakan radikalisme. Karena gerakan itu terbukti tidak hanya melawan umat Islam sendiri, tetapi berani menentang sahabat bahkan menentang Nabi, dengan mengatasnamakan Islam dan keadilan.

Efektivitas kepemimpinan Nabi itu teah menciptakan kehidupan yang sebelumnya penuh kekerasan menjadi kehidupan yang penuh kedamaian. Ini merupakan pelajaran penting bagi umat Islam sesudahnya dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara. Kuncinya adalah bersatunya iman dengan amal saleh, bersatunya antara aturan dan kata dengan perbuatan. Rupanya teladan yang telah diberikan Nabi kita ini menginspirasi para Bapak Pendiri Bangsa kita, dan diterapkan dengan sangat tepatnya dan dalam rumusan yang sangat indahnya saat membuat dasar negara dengan pertama-tama meletakkan fundasi Ketuhanan yang Maha Esa, yang dalam bahasa agama disebut ketauhidan atau keimanan, bagi bangsa Indonesia.

Berdasarkan ketauhidan itu kemudian dilanjutkan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan (yang mencerminkan amal saleh). Semuanya ini tertuang dalam Pancasila yang menjadi dasar negara kita, di mana Sila pertama mencerminkan amanu (keimanan), sedangkan empat sila berikutnya mencerminkan amilus sholihati (dan amal saleh). Karena itu kedudukan Pancasila mempunya posisi kuat, baik secara syar’i (agama) maupun secara siyasi (politik). Karena itu Pancasila diterima dengan sepenuh hati sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara.

Setelah lebih dari satu dasawarsa reformasi masih banyak persoalan yang kita hadapi dan ini merupakan problem besar yang perlu segera diselesaikan. Dengan sumber daya yang ada dan dengan ilmu pengetahuan yang ada serta dengan semangat dan iman dan moralitas yang ada, kita optimis berbagai persoalan rakyat dan bangsa ini bisa diatasi dengan petunjuk dan keteladanan yang diberikan oleh Nabi. Problemnya saat ini kenapa kita masih sulit meneladani langkah dan perbuatan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad. Hal itu tidak lain karena masih terlalu besarnya interes pribadi dan kelompk dibanding kepedulian pada kepentingan umum atau umat. Hal itu disebabkan orang terpukau oleh arus kehidupan modern yang materialistik dan hedonistik. Padahal kekayaan dan kekuasaan itu hanya sebagai sarana untuk menuju keridloan Allah, karena harta dan kekuasaan itu tidak langgeng dan hanya amanah atau titipan oleh Allah, dan setiap saat Allah bisa mengambilnya kembali, sebagaimana difirmankan;

قل اللهم مالك الملك تؤتى الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير
Artinya: “Katakanlah; Wahai tuhan yang memiliki kekuasaan, engkau memberi kekuasaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau mencabut kekuasaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan kau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tanganmu segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26)

Tentu saja harta harus dicari, tetapi dengan jalan yang halal. Mencari harta untuk memenuhi hajat hidup itu termasuk ibadah dan tergolong amal shaleh. Mesti diketahui bahwa harta harus ditasarufkan untuk hal hal yang baik, sehingga harta menjadi bermakna. Karena kalau harta hanya dikumpulkan untuk kesenangan pribadi dengan mengabaikan kepentingan orang lain apalagi kepentingan rakyat dan negara, maka di situlah mulai timbul berbagai penyimpangan seperti korupsi kolusi dan sebagainya. Padahal Allah sudah mengingatkan bahwa harta yang diperoleh dengan cara tidak benar itu akan sia-sia;

لن تغني عنهم أموالهم ولا أولادهم من الله شيئا
Artinya: "Tidak berguna sama-sekali, harta dan anak-anak mereka bagi Allah." (QS. Ali Imran: 10).

Bagaimanapun kekuasaan, kepemimpinan bahkan kehidupan sendiri adalah amanah dari Allah SWT, yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Amanah adalah salah satu sifat para Nabi dan Rasul yang harus diteladi oleh umatnya. Dengan dengan amanah itulah kebenaran dan misi Islam bisa disampaikan, sebagaimana firman Allah :

إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil." (QS. An-Nisa: 57).

Karena kepemimpinan dan harta adalah amanah maka Islam menetapkan prinsip para pemimpin yang memiliki kekuasaan agar menerapkan kekuasaannya sesuai dengan amanah yang mereka emban tanpa ditambah atau dikurangi:

تصرف الأمام على الرعية منوط بالمصلحة
(kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus merujuk pada kemashlahatan umat).

Komitmen kerakyatan bagi seorang pemimpin adalah sebuah kemestian dalam pengertian ini. Bahkan ditegaskan lagi oleh Mujtahid besar Imam Muhammad Ibn Idri As Syafii, bahwa;

منزلة الإمام من الرعية منزلة الولي من اليتيم
(Posisi pemerintah dalam hubungannya dengan rakyat seperti posisi wali terhadap anak yatim).

Ibarat anak yatim, maka rakyat harus dilindungi dan dijaga hak-hak mereka, disalurkan aspirasinya. Mengambil hak rakyat sama dosanya dengan mengambil hak-hak anak yatim, karena itu harus dijauhi. Kebijakan yang mengabaikan kepentingan rakyat sama dengan mengambil hak rakyat itu sendiri, ini yang mesti diperhatikan oleh setiap pemimpin.

Bapak Presiden, hadirin hadirat sekalian yang berbahagia.

Keteladanan yang diberikan Nabi tentang bagaimana menyantuni rakyat dan mengatasi fakir miskin dengan menggerakkan zakat, dan sedakah serta bentuk –bentuk pendistribusian kekayaan dan kesejahteraan lainnya. Segala bentuk monopoli kekuasaan maupun kekayaan haruslah dihindarkan agar kesejahteraan umum terjamin. Saat ini konsentrasi kekayaan di sekelompok orang masih saja terjadi di sana sini, sehingga mengurangi kesempatan yang lain. Pemerintah mesti peka pada persoalan ini, langkah pemerintah ke arah ini sudah ada, tetapi perlu terus digiatkan agar tidak bocor, menyimpang atau berhenti di tengah jalan. Rakyat perlu diberi akses sebesar-besarnya pada sumber-sumber ekonomi. Dengan demikian monopoli kekayaan bisa diurai sehingga pemerataan kesejahteraan yang terjadi.

Dengan diutusnya Nabi Muhammad kita bisa memperoleh petunjuk dari Allah menuju jalan yang benar, jalan menuju keadilan dan ketakwaan. Begitulah misi besar Nabi Muhammad yang membawakan ajarannya dengan melalui keteladanan, menunjukkan ajaran Islam yang dibawa bisa diterapkan sesuai dengan kemampuan umat manusia. Dengan perjuangannya yang penuh ketabahan dan penuh optimisme itu Islam bisa melakuakn perubahan tata kehidupan Dunia hanya dalam waktu singkat, sehingga benar-benar menjadikan umat manusia memperoleh petunjuk dan kedamaian. Itulah sebabnya Islam disebut sebagai agama rahmatan lil alamin, yang ini dicontohkan langsung oleh Nabi. Dan akan tetap relevan shalihun fi Kulli zaman wa makan (relevan sepanjang zaman dan setiap tempat). Dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari seperempat abad ajaran dan pengaruhnya telah menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Dalam hal ini Allah berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
Artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang beriman untuk tuduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan dan janganlah mereka seperti kaum sebelumnya walaupun telah diturunkan kitab kepadanya, kemudian berlalaulah masa yang panjang atas mereka, lalau hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Kecerdasan, kecerdikan memang sangat diperlukan untuk meraih kemajuan, tetapi perlu diingat, semuanya perlu dilandasi dengan nilai moral dan kerendahan hati. Karena seringkali orang berbuat salah dan tidak bisa melihat kebenaran bukan karena buta matanya, tetapi karena buta hatinya:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya: “Apakah mereka tidak berjalan di atas bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telingan untuk mendengar. Karena sesungguhnya bukan mata (kepala) mereka yang buta, tetapi yang buta adalah (mata) hati mereka yang ada di dada.” (QS. Al Hajj: 46).

Seringkali kebutaan hati, ketidak kepekaan nurani itu yang menghalangi seseorang untuk memperoleh kebenaran yang sesungguhnya. Bahkan kalau hati sudah buta, walaupun mata melihat dengan terang benderang, realitas yang terpampang di depan mata tidak kelihatan, kalaupun kelihatan sama sekali tidak menyentuh hati dan perasaan mereka, karena ketajaman perasaan telah tumpul, kepepekaan sosial juga telah hilang. Di situlah pentingnya para pemimpin terutama para pejabat tinggi untuk selalu mengasah hati agar memiliki kepekaan yang tinggi dalam menangkap setiap aspirasi yang berkembang di masyarakat. Di sini selain diperlukan aqal (rasio), tetap juga dibutuhkan ketajaman dzauq (rasa) yang ada dalam qalbu manusia.

Bapak Presiden, hadirin-hadirat yang dirahmati Allah

Cahaya iman dan etika itu yang menjiwai dan menginspirasi perkembangan keilmuan dan peradaban Islam. Ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan keimanan itu, kemudian dilaksanakan dengan kerendahan hati bahwa ilmu ini dari Allah dan ditasarufkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat manusia. Dengan prinsip semacam itu maka ilmuwan yang beriman saat mencapai karir keilmuannya bukan semakin congkak, bukan semakin feodal, tetapi semakin merunduk hatinya, baik di hadapan Tuhan maupun dihadapan sesama manusia. Karena itu sangatlah arif apa yang diajarkan oleh para pujangga kita, yaitu ilmu padi, semakin tua, dan semakin berisi maka semakin merunduk. Ini sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana banyak diamalkan oleh para ulama.

Semua contoh dan keteladanan Nabi itu bukan hanya untuk diceritakan, tetapi untuk diwarisi dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari, hari, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, masyarakat bernegara dan berbangsa. Insyallah.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda