Sabtu, 26 Maret 2011

100 Nasehat Untuk Pengantin Baru

Pengantar
Di manapun, seorang laki-laki selamanya akan mencari ketentraman, ketenangan, dan kehangatan.
Dalam tradisi masyarakat timur, seorang laki-laki benar-benar mengharapkan calon istri, hidup berumah-tangga, dan anak-anak. Ini tentunya bertentangan dengan tradisi orang-orang Barat di mana rumah merupakan sumber malapetaka, dekadensi moral, menyingkap keburukan dan kejelekan serta lahirnya anak-anak haram.
Sebagian keluarga umat Islam, dengan alasan kemajuan, hidup metropolis, dan peradaban yang mengikuti ajaran Islam, mereka mulai menolak dan meninggalkan norma-norma agama yang digariskan dalam kitab-kitab yang banyak tersebar dan bahkan telah diterjemahkan. Mereka agaknya lebih suka untuk mengikuti tradisi orang-orang barat seutuhnya!
Kaum wanita dalam soal ini adalah orang yang pertama tertuduh. Saya katakan bahwa hal itu memang benar adanya. Betapa kini mereka mulai berani menari dalam berbagai festival dan perayaan. Hampir menyerupai yang dilakukan oleh orang-orang barat. Minum-minuman air keras sambil ber-toast-toast-an bangga hingga larut malam. Mereka pun saling berbincang-bincang dalam soal-soal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan persoalan agama maupun keluarga. Setelah anak perempuannya lahir, mereka tak urung lalu mengikuti jejak ibunya persis seperti apa yang pernah dilakukannya dan menganggap bahwa ikatan perkawinan hanyalah ikatan yang membelenggu kebebasannya. Perhatikanlah, bagaimana perempuan dalam pandangan seperti ini layak dalam membina bahtera rumah tangga? Jawabannya, tentu saja tidak.

Apa pendapat mereka tentang perempuan?
Wanita itu liar. Maksudnya, ia akan berbuat apa saja tanpa berpikir dan menimbangnya terlebih dahulu. Mereka memang memiliki sifat liar. Sifat ini dilekatkan pada umumnya seorang wanita semenjak jaman-jaman kuno di mana mereka dikandung dan dilahirkan tanpa ikatan hukum maupun adat. Akhirnya mereka terlahir tanpa kehendak apa-apa. Akibatnya, mereka tidak mengenal siapa ayahnya. Yang diketahuinya hanya ibunya. Itupun dikarenakan seorang ibulah yang mengasuh, memberikannya makan, menyusuinya, dan mengenalkan terhadap berbagai hal.
Jaman terus berlalu hingga menjadikan seorang laki-laki sebagai pemimpin suku. Adapun posisi seorang perempuan, mereka diciptakan hanya untuk melayani laki-laki hingga mereka tidak diperkenankan keluar dari dalam gua, perkemahan, maupun tempat persembunyian. Karena khawatir akan mendatangkan aib dan malapetaka. Tertancap keyakinan dalam alam pikiran seorang laki-laki saat itu, bahwa tabiat perempuan semuanya sama. Semenjak mereka dilahirkan ke dunia ini, mereka dianggap sebagai properti atau bagian dari barang kepemilikan hingga mereka seolah absah untuk dianiaya, dirampok, direbut, bahkan diperkosa. Posisi seorang perempuan tidak lebih sebagai ganimah (*rampasan perang, penj.) perang laiknya emas, perak, dan kekayaan lainnya.
Seiring dengan kemajuan jaman dan peradaban, diketahuilah tatanan keluarga (familial). Keluarga ini terdiri dari seorang suami, istri, dan anak-anak yang terlahir dari keduanya. Setiap anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang mesti dipenuhi maupun dilaksanakan. Setiap anggota keluarga itu masing-masing memikul tanggung jawab dari segala perbuatan dan pelaksanaan kewajibannya itu sesuai dengan peraturan dalam lingkungan keluarga tersebut. Demikian juga aturan main itu pun diterapkan saat mereka berhubungan dan bergaul dengan kerabat maupun tetangga dekat di luar rumah.

Kewajiban seorang suami
Seorang suami memiliki tanggung jawab yang sangat beragam, baik terhadap istri, anak-anaknya, maupun kepada orang tuanya. Kewajiban yang paling mendasar bagi seorang suami ialah kemampuan untuk memberikan tempat tinggal, memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, minum, dan pakaian (sandang, pangan, papan). Setiap kewajiban itu baik dalam menafkahi, mendidik, dan membina rumah tangga, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Baik lebih maupun kurang.
Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban seorang pemimpin terhadap apa yang dipimpinnya. Apakah ia memelihara ataukah menyia-nyiakannya. Hingga Ia pun akan meminta pertanggungjawaban seorang suami terhadap keluarga di rumahnya.”
Islam tidak membiarkan urusan keluarga maupun hak setiap anggota di dalamnya begitu saja. Islam memperhatikan bahkan mengatur tatanan maupun ikatan dalam sebuah keluarga. Islam menetapkan hak, kewajiban, maupun beban bagi masing-masing anggota keluarga tersebut hingga terjadi ikatan yang kuat dan masing-masing bisa saling bekerja sama untuk membina kehidupan yang tentram, harmonis, dan bahagia.
Seorang ayah tidak hanya berkewajiban dalam menafkahi ekonomi keluarga maupun mencukupi kebutuhan anak-anaknya saja. Mereka juga berkewajiban untuk mendidik dan membina semua anggota keluarga sehingga mereka terarahkan pada kehidupan yang saleh, memiliki tradisi yang terpuji, dan terhindar dari sikap-sikap yang tercela.
Tanggung jawab dalam mendidik seorang anak, pertama-tama jelas terpikul dalam pundak keluarga. Peran sekolah berikutnya akan membentuk seorang anak tidak hanya seorang diri melainkan memiliki masyarakat lain (group). Ikatan antara seorang anak dengan orang tuanya maupun saudara-saudaranya terbentuk secara alami dalam sebuah tatanan keluarga. Inilah yang menjadikan tatanan keluarga sebagai unsur terpenting dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, tatanan keluargalah yang menjadikan terbentuknya lingkungan sosial pertama bagi seorang anak. Selanjutnya seorang anak akan tumbuh berkembang secara sosial, moral, dan emosional sesuai didikan keluarganya yang memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian seorang anak maupun mengarahkannya pada akhlak yang terpuji.
Oleh karena itu, kurangnya perhatian seorang ayah dalam melaksanakan kewajibannya ini tidak dikehendaki oleh agama. Akibat kelalaian ini, jelas akan meretakkan hubungan dan ikatan antarsesama anggota keluarga yang tentunya bisa meniadakan ketentraman hidup serta terbiasa melanggar norma-norma kekeluargaan yang seharusnya diterapkan.
Akibatnya, seorang anak tidak amu mendengar nasihat orang tuanya dikarenakan ia menyaksikan mereka tidak mampu melaksanakan kewajibannya seorang orang tua. Terkadang ada seorang ayah yang galak dan kejam dalam memperlakukan seorang anak sehingga mereka terkadang terpaksa lari atau bahkan minggat dari rumahnya. Tanggung jawab yang cukup penting bagi seorang ayah justru memikirkan bagaimana sebuah keluarga terjalin harmonis. Sebagaimana seorang ayah yang menasihati anaknya, seorang suami berkewajiban membahagiakan istrinya yang juga merupakan mitra dalam kehidupan rumah tangganya.
Pernah seorang negro dari senegal ditanya seputar kenapa ia tidak mau untuk sesekali bercanda dengan istrinya? Ia hanya menjawab, “Seandainya hal itu dilakukan, maka akan hilanglah kewibawaan kepemimpinan keluarga seketika itu juga.”
Ketika seorang laki-laki aborigin, penduduk asli australia ditanya kenapa ia ingin menikah, ia menjawab terus terang, ia menikah tiada lain membutuhkan seorang istri yang kelak akan menyediakan makanan, minuman, dan sebagai pemuas nafsu ketika dalam perjalanan. Seandainya seorang suami mampu memberikan hak pada istrinya, akan berubahlah kondisi keluarga. Egoisme hanyalah akan berbuah malapetaka bagi keretakan sebuah keluarga.
Sebaliknya, ikatan dalam sebuah keluarga akan terjalin semakin kuat manakala seorang istri merasakan perannya di samping suaminya. Ia pasti akan memberikan cinta dan kasih sayangnya pada suaminya itu. Ia akan merasakan ketidakhadiran sang suami dalam rumahnya akan menyisakan beberapa tugas penting yang mesti diselesaikan. Disinilah ia akan merasakan peran penting akan tugas dan kewajibannya di samping ia juga membutuhkan akan kehadiran seorang suami. Berapa banyak keluarga yang terlantar dan tercerai-berai gara-gara egosime seorang ayah yang galak dan keras kepala serta tanpa menanamkan rasa kasih sayang pada istrinya maupun dengan menunjukkan semua tabiat buruknya di depan istrinya.
Penulis pernah bertanya pada wanita-wanita janda, bagaimana tanggapan mereka seputar peran seorang suami? Dua puluh persen dari mereka menjawab, tanpa kehadiran seorang suami, mereka merasa kehilangan pegangan hidup, cinta, dan perasaan. Namun sayangnya hal itu agaknya mustahil didapatkan dari yang lain. Adapun lima puluh persen dari mereka menjawab, hidup bersama seorang suami berlangsung biasa saja. Tidak ada liku-liku maupun romantisme. Mereka hanya rutin dengan kesibukan mengurus anak-anak. Tidak lebih dari itu.
Bahkan ada juga yang justru mengharapkan suami mereka pergi untuk selama-lamanya karena selalu merasa disakiti dan menyiksa perasaan.
Perasaan penulis benar-benar sesak dan penuh amarah terpendam tatkala menyaksikan sebab-sebab yang membuat sebuah rumah tangga retak dan berakhir dengan perceraian hampir mencapai 100 persen!
Demikianlah yang kebanyakan terjadi dalam kehidupan rumah tangga dalam masyarakat mesir, terutama mereka yang tinggal di kampung-kampung dan pedesaan. Adapun di kota-kota besardi mana orang-orang penuh sesak di dalamnya, kehidupan rumah tangga mereka lebih pelik dan beragam lagi. Seorang istri tidak terhalang oleh ikatan apapun dan kurang begitu peduli memperhatikan pergaulan anak-anak yang menyia-nyiakan waktu hidup mereka di depan mall-mall maupun anak-anak jalanan yang sibuk mengelap mobil-mobil dengan kain kuning. Seandainya semuaitu dikembalikan pada peran dan kewajiban seorang ayah, maka dialah yang bertanggungjawab untuk mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kebahgiaan.

Istriku egois dan cerewet
Semua orang sepakat, seorang istri yang cerewet dan egois akan membuat suaminya gusar sekaligus mengancam keberlangsungan kehidupan rumah tangganya sendiri.
Egosime merupakan sifat ingin menang sendiri dengan tidak melaksanakan berbagai kewajiban rumah tangga di dalam rumahnya baik karena kurangnya rasa kasih sayang maupun karena banyak lalai. Hal itu terjadi diakibatkan oleh pandangan sempit si pelakunya yang mencoba membandingkan sesuatu dengan yang lebih tinggi. Ia selalu membanding-bandingkan status kehidupannya dengan yang lain yang lebih tinggi gaya hidupnya. Karenanya, mereka senantiasa tidak merasakan kehidupan yang tentram dan bahagia dikarenakan kecilnya pendapatan mereka sebagaimana sempitnya pandangan mereka terhadap kehidupan keluarga yang lain.

Apakah orang egois akan berpasangan dengan orang egois lagi?
(Jika sama-sama egois)
Sudah barang tentu siapapun akan mencoba untuk menghindari sikap egois ini sepanjang hidupnya. Sesungguhnya, jarang sekali hadir persoalan rumit yang bisa mengancam keretakan hidup berumah tangga. Sebab, setiap persoalan yang muncul dalam rumah tangga sebagai suatu konsekuensi, hal itu tentunya menjadi tanggung jawab bersama suami dan istri.
Bukankah sebelum menikah, seorang suami membutuhkan cinta dan kasih sayang. Ia kemudian hidup bersama kekasihnya dalam jalinan khitbah atau tunangan. Saat itu perilaku egoismenya belum begitu terlihat. Namun, jika kemudian sifat itu muncul saat ia masih bertunangan dengannya, niscaya ia akan lari kepada yang lain dan tidak mempersuntingnya sebagai istrinya.
Seorang istri yang egois selamanya dikuasai oleh perasaan resah dan gundah gulana. Terdapat banyak cara untuk mengenyahkan kegelisahan seperti ini. Kegelisahan yang terpendam akan penyelewengan seorang suami yang dikhawatirkan menjalin hubungan dengan wanita intim lain (WIL). Akan tetapi, seorang istri yang egois tidak mampu meredam malah ia akan mencari pengganti yang lainnya. Dari segi ini, kecemburuan seorang istri jelas akan mengancam kehidupan rumah tangga dengan suaminya.
Tak jarang seorang suami pergi memohon bantuan para psikiater agar istrinya tersebut keluar dari watak jeleknya itu. Darisinilah seorang suami berkewajiban sekuat kemampuannya dan penuh serius untuk mengembalikan mentalitas egoisme sang istri menuju perasaan yang tenang dan damai. Demikian pula halnya untuk memperhatikan seorang istri dengan penuh kasih sayang agar ia tumbuh menjadi seorang istri yang berpengetahuan luas meski di sela-sela kesibukan pekerjaannya. Insya Allah, mentalitas sang istri akan kembali normal dan tidak egois lagi.

Tips bagi seorang wanita dalam masa pertunangan
1. bersikap lembutlah saat berbicara. Hindarilah pembicaraan yang bisa menunjukkan kekurangan kasih sayangmu kepadanya. Usahakan untuk tidak membuat seorang laki-laki banyak bertanya tentang pendapatmu, wawasanmu, keahlianmu, keelokanmu, kecantikan tubuhmu, maupun ungkapan perasaanmu. Inilah desakan-desakan yang menjadikan seorang laki-laki pergi dari kekasihnya. Berbicaralah dalam soal-soal yang kira-kiranya lebih dianggap penting dari itu semua.
Masih banyak topik pembicaraan lain yang berkaitan dengan masa depan hidup. Janganlah kalian memonopoli pembicaraan karena mengira hal itu akan membuat seorang laki-laki akan semakin takjub dan mengenalmu sebagai pembicara ulung. Pada kenyataannya, hal itulah yang akan membuat ia lari dari genggamanmu karena ia akan mencurigaimu sebagai tukang gosip yang hanya saja akan membuat kepalanya pening dengan celoteh-celoteh cerewetnya.
2. hendaklah kalian yang pertama membuka topik pembicaraan dan perbaguslah hubungan kalian dengannya. Berbicaralah dengannya seputar soal politik, seni, budaya, ataupun bahkan seputar entertainment. Berikanlah kesempatan kepadanya untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya. Memberikan support dan dukungan agar tidak merasa dicuekkan. Hendaklah kalian bisa mengorek keinginannya, kesukaannya, harapannya, maupun cita-cita hidupnya. Dari sini kalian akan mengetahui keinginan berikut keserasian watak masing-masing. Sebab, keserasian ini mesti mendapat prioritas mengingat pentingnya peran tersebut dalam membina hubungan rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Dan, usahakanlah untuk tidak mencoba pura-pura menyepakati pendapatnya jika itu tidak sesuai dengan pendapat nuranimu.

Hindarilah sifat berikut wahai calon suami maupun isteri…
Hendaklah kalian berdua ketahui…
Diantara yang termasuk kebiasaan buruk yang bisa mengancam keutuhan hidup berumah tangga ialah, membuka aib dan mengungkap semua rahasia saat marah. Sang suami menjelek-jelekkan isterinya, memarahinya, dan menyakiti hatinya. Bisa juga sang isteri mencaci suaminya dengan memarahinya dan menyakiti hatinya hingga suaminya marah dan menyimpan dendam. Jika sudah begitu, maka tunggulah kehancuran yang akan mengancam keduanya dengan terbongkar semua rahasia mereka berdua.
Sang suami akhirnya menggosip, bahwa isterinya itu begini dan begitu, telah berbuat begini dan begitu, asalnya itu begini padahal harusnya begitu. Si isteri pun mencurhatkan pada orang lain bahwa suaminya itu begini begitu, telah berbuat begini dan begitu yang membuat dirinya menderita dan sakit hati dengan kata-kata suaminya. Tidak ragu lagi, bahwa saat-saat marah ada syetan yang terlibat di dalamnya.
Islam telah berwasiat kepada suami-isteri untuk senantiasa memelihara sifat pemarah ini sebagai berikut:
- firman Allah swt., “dan janganlah kalian melupakan karunia di antara kalian,” (Qs…).
- Sabda Nabi Saw., “Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim di dunia, niscaya Allah akan menutupi (dosa)nya pada hari kiamat.”
- Ingatlah wahai suami-isteri muslim , menyebarkan rahasia rumah tangga itu akan mengancam runtuhnya kepercayaan di antara suami-isteri. Hal itu justru akan semakin menambah persoalan bahkan bisa terancam kehancuran dan keruntuhan hidup berumah tangga.

Ketahuilah, ada faedah yang sangat bernilai manakala setiap kita bisa menyembunyikan rahasia kita masing-masing. Itu semua merupakan sifat-sifat keterpecayaan dan amanah yang bisa kian menumbuhkan rasa percaya, cinta, dan kasih sayang di antara pasangan suami-isteri. Sungguh suatu hal yang masuk akal!
Marry Stoppes pernah berpesan,
“tidak bisa dipungkiri bahwa sekalipun pasangan suami-isteri saling mencintai satu sama lainnya, terkadang ada juga rasa jenuh dan bosan. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa obat rasa bosan itu bisa hilang dengan cara ‘bergaul’ dengan yang lain agar, pertama, dapat menghilangkan rasa bosan. Kedua, agar bisa belajar dari pergaulan dengan yang lain dengan berbagai informasi, perbandingan, maupun berbagai pelajaran dengan tanpa mengurangi kemandirian hubungan di antara keduanya.”
Agaknya, suatu hal yang tidak bisa dibantah, marry jelas kehilangan daya nalarnya karena akibat dari pikiran-pikiran busuk yang merasuki dirinya dalam menanggapi persoalan hidup berumah tangga. Terlebih ia berada dalam lingkungan masyarakat yang tidak mempedulikan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Sementara dalam kehidupan umat Islam, sangat tidak masuk akal jika pasangan suami isteri hidup berumah tangga dengan penuh rasa bosan dan rasa tidak puas satu dengan yang lainnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi demikian?

Saling pengertian dan mudah memaafkan
Pasangan suami isteri yang bahagia
Keduanya adalah dua jasad satu hati. Setiap pasangan suami-isteri bisa saling merasakan segala kelelahan, kebingungan maupun persoalan-persoalan rumah tangga lainnya. Dengan penuh kasih, mereka akan mudah untuk saling merasakan suka duka dengan penuh pengertian dan saling memaafkan sepanjang hidupnya. Terutama di saat salah seorang di antara mereka berbuat salah dan keliru dalam menjalankan kewajiban hidup sehari-hari.
Hendaknya setiap kita senantiasa menjauhi pertengkaran yang penuh rasa dengki dan prasangka. Seyogianya pihak yang sadar untuk senantiasa memaafkan kesalahan pasangannya dengan penuh ketulusan, tanpa harus membeberkan berbagai kesalahan dan kekhilafannya itu pada orang lain atau pihak ketiga. Selain dengan menumbuhkan kesungguh-sungguhan dalam menghilangkan jejak perselisihan itu dengan penuh bijaksana.
Peliharalah terus hubungan dengan sang isteri karena kita telah menjalin hubungan dengannya dalam sebuah kisah cinta yang melelahkan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menikahinya.
Memang, seiring perjalanan waktu, ternyata sang isteri adalah seorang yang egois, cepat naik darah, dan pemarah hingga mengancam keharmonisan dan kebahagiaan berumah tangga. Kata-katanya kasar dan menyakitkan hingga nyaris meruntuhkan jalinan cinta yang selama ini mempersatukan keduanya. Dengan penuh tulus dan bijaksana, hendaknya sang suami bisa mengalah sambil menyelami perasaannya dan mencari akar-akar penyebab tabiat buruknya tersebut.
Cobalah untuk senantiasa menenangkan keadaan. Seolah-olah isteri kita memang lemah dalam salah satu tabiatnya itu. Seandainya sang suami kurang sabar, ia sama saja dengan memotong salah satu cabang pohon dengan mudah. Ia tidak akan menghasilkan hasil apa-apa dalam waktu singkat sekalipun ia mengambil cara-cara yang keras agar bisa segera menghilangkan pertengkaran di antara keduanya serta menganggap mudah mengantisipasinya dan menghindari semua pertengkaran itu.
Tidak. Tidak untuk mengabaikan hak-hak seorang isteri.
Rasulullah saw. bersabda pada seorang isteri yang bertanya kepadanya,
“apa hak aku bagi suamiku?”
beliau menjawab,
“hakmu atas dirinya adalah ia memberimu makan sesuai apa yang ia makan, memberimu pakaian sesuai yang ia pakai, dan tidak menampar maupun menempeleng wajahmu.”
Rasulullah juga pernah bersabda,
“janganlah engkau mengabaikan hak perempuan yang dijamin Allah hingga engkau menunaikan kewajiban kepadanya. Islam sungguh melindungi mereka dengan perlakuan yang baik dan menunaikan hak-hak mendasar untuk membahagiakannya dengan penuh tanggung jawab dan berkeadilan. Maka, diwajibkan atas setiap pasangan suami-isteri menunaikan hak maupun menjalankan kewajiban untuk menjaga hidupnya dari kehancuran dan mengantisipasi setiap bahaya yang mengancam baik dari sebab perselisihan maupun pertengkaran. Dengan begitu, setiap pasangan saling menunaikan haknya masing-masing dengan penuh pengertian satu sama lain.
Namun, Islam tidak hanya cukup dengan menunaikan hak dan kewajiban bagi setiap pasangan. Islam juga menganjurkan dan memerintahkan agar saling bersaing dalam bekerja dan beramal saleh demi mendapatkan pahala berlipat dari Allah semata. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs.3: 133).
Dari jabir bin abdullah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘apabila seorang perempuan salat lima waktu, puasa selama sebulan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka masuklah ia dari pintu surga manapun yang ia kehendaki.”
Beliau pun mencela orang-orang yang keluar dari rasa kasih dan sayangnya seraya bersabda, “ingatlah, sesungguhnya Allah dan Rasulullah-Nya berlepas diri dari orang-orang yang menyakiti isterinya hingga ia berpaling dari suaminya.”
Penulis tidaklah terlalu kaget pada orang-orang yang kerap memukul isterinya seolah-olah itu adalah solusi terbaik. ‘benar-benar perbuatan terkutuk, seorang isteri yang disakiti dan dianiaya suaminya sendiri.”
Akhirnya, apabila anda mengharapkan hidup yang bahagia dalam keadaan sulit sekalipun;
1. ungkapkanlah cinta dan sayang pada isterimu
2. milikilah rasa pengertian dan mudah memaafkan
3. janganlah engkau abaikan hak-haknya.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda