Minggu, 27 Maret 2011

Risiko Kematian Akibat Menggugurkan Kandungan (Aborsi)

Tercatat 70.000 ibu meninggal di seluruh dunia karena aktivitas aborsi yang tidak aman.
Saat ini, gaya hidup masyarakat sudah sangat berubah. Kehidupan makin bebas mengakibatkan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan makin meningkat. Hal ini pun berdampak pada makin tingginya angka aborsi setiap tahunnya.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah tidak hanya bayi yang dengan sengaja direnggut haknya untuk hidup, tetapi juga nyawa sang bunda secara tidak sengaja melayang di ruang 'operasi' yang diragukan kebersihannya.

Tercatat 70.000 ibu meninggal di seluruh dunia karena aktivitas aborsi yang tidak aman di klinik yang tidak memiliki sertifikat atau klinik ilegal.

Makin tingginya angka aborsi, mangakibatkan makin gencarnya kampanye penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom. Walaupun mengalami penurunan, kampanye tersebut kerap kali tidak menyelamatkan masyarakat yang tidak melakukan seks aman. Karena, aborsi masih saja terjadi dan masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat.

US Guttmacher Institute melaporkan bahwa angka aborsi sudah jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Pada 1995, terjadi 45.5 juta kasus aborsi di seluruh dunia. Namun pada 2003, angka tersebut turun menjadi 41.6 juta kasus.

Namun sayangnya, angka tersebut tidak merepresentasikan tindakan aborsi yang dilakukan secara diam-diam di klinik gelap. Pada 1995 terjadi 19.9 juta kasus aborsi yang dilakukan di klinik gelap. Angka ini memang mengalami penurunan di 2003, yaitu 19.7 juta kasus, akan tetapi perbandingan ini tidak menunjukan penurunan yang tajam.

Oleh karena itu, tampaknya sangat tidak mungkin ada perbaikan angka kematian ibu di klinik aborsi ilegal. Seperti yang dilansir dari laman Genius Beauty, setengah dari angka kematian tersebut adalah wanita yang meninggal pada 'operasi' di Sub-Saharan Afrika.

Guttmacher Institute melaporkan bahwa negara-negara dengan angka aborsi yang tinggi justru melarang kehamilan warganya. Hal ini pun mengakibatkan terjadinya peningkatan pada angka penggunaan fasilitas klinik aborsi yang tidak aman. Sedangkan, negara-negara yang mengurangi pembatasan hukum dan melegalkan aborsi yang dilakukan oleh rumah sakit-rumah sakit dengan dokter-dokter ahli menghasilkan penurunan angka kematian karena aborsi.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda